Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
07.28
Mbah Karnawi, Cari Berkah dari Adzan di Ratusan Musholla
Jepara-Bagi Karnawi (70) warga dukuh Tegaron desa Ujung Pandan kecamatan Welahan beberapa bulan ini melakukanlakon dengan Adzan di ratusan musholla dan masjid di seputaran Jepara dan Demak. Hingga kini sudah lebih dari 300 musholla dan masjid yang ia datangi setiap hari dengan sepeda tuanya.
“Lakon ini saya jalani sejak 7 bulan lalu. Tugas ini datang dari Syekh Hussain Mayong. Ketika itu saya mohon berkah dan beliau mengatakan yen wes tuwo, yen iso ya adzan neng masjid sak kuatmu,” ujarnya.
Ia mengatakan, lakon yang dijalani itu nglenter, pasrah begitu saja. Jika badannya tetap sehat dengan sepeda tuanya ia keliling dari desa ke desa. Sesampainya di musholla dan masjid ia pun mohon izin untuk adzan. Jika diperbolehkan ia kemudian mengumandangkan adzan dilanjutkan dengan membaca shalawat dan diakhiri dengan iqamah, pertanda shalat jamaah dimulai.
“Kadang kala ada juga yang melarang karena sudah ada muadzin khusus. Jika tidak boleh saya pun tidak apa-apa. Namun kebanyakan mereka membolehkan saya untuk adzan dan iqamah,” terang Karnawi.
Meskipun sudah lebih dari 300 musholla dan masjid yang disambangi, ia belum menghentikan lakonnya itu. Karenanya hari-hari ke depan ia tetap menjalani kegiatannya itu dengan bersepeda. Untuk makan ia membawa bekal sendiri dari rumah.
Selama menjalani lakon dirinya tidak pernah menginap atau tidur bermalam di musholla atau masjid. Jika jarak cukup jauh dari rumahnya ia berangkat pagi-pagi dan senja menjelang Karnawi pun bergegas pulang.
“Itu pesan ponakan saya . Karena saya tinggal dengan ponakan boleh menjalani lakon mulai pagi hingga sore, malam sudah harus menemaninya lagi,” imbuhnya.
Baginya tiada kepentingan apa pun menjalani lakon tersebut melainkan hanya untuk mengisi sisa hidupnya sebelum ajal menjemput. (FM/ qim)
Sumber dan Foto : soearamoeria.blogspot.com
Labels:
Sosok
06.39
Fahrur Rozi ;Ketua RT Jabatan Sosial Di Desa , Butuh ATK Untuk Kelancaran Pelayanan
Fahrur Rozi 20 tahun jadi Ketua RT, Selain Kepala desa dan perangkat pemerintahan desa tidak bisa lancar
jika tidak ada peran Ketua RT dan RW. Diakui atau tidak peran ketua RT
dan RW sangat penting utamanya desa dengan jumlah penduduk yang besar
juga wilayah yang luas. Dengan keterbatasan jumlah perangkat yang ada
peran Ketua RT cukup dominan dalam pelaksanaan pelayanan pada
masyarakat.
Dalam mensosialisasikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat
sangat penting apalagi yang langsung bersentuhan dengan warga desa
misalnya, program raskin, jamkesmas, PNPM Mandiri Perdesaan , KB , Yandu
dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain itu kegiatan kerukunan
masyarakat misalnya pembangunan Musholla. Masjid , dan bangunan lainnya
juga tidak dapat meninggalkan peran Ketua RT .
“ Tanpa adanya Ketua RT saya yakin jalannya pemerintahan dan juga
pelayanan masyarakat akan kacau. Dengan jumlah perangkat desa yang
terbatas dan wilayah yang cukup luas maka dibutuhkan tenaga pembantu
social seperti Ketua RT dan RW “, ujar Fahrur Rozi Ketua RT 03 RW 01
desa Tedunan kecamatan Kedung kabupaten Jepara pada kabarseputarmuria.
Mengapa disebut kerja social ? Fahrur Rozi mengatakan jika Kepala
Desa dan perangkat sudah mendapatkan gaji atau bengkok , sehingga kerja
mereka tidak social lagi. Namun jika Ketua RT dan RW siapa yang membayar
? mereka kerja dengan suka rela dan ihlas , sehingga meskipun telah
lebih 10 tahun menjadi Ketua RT dia tidak mendapatkan gaji sepeserpun
dari pemerintah.
Padahal dalam kesehariannya waktunya pasti dipergunakan untuk
kepentingan masyarakat disekitarnya . Dalam pembagian beras Raskin
misalnya peran Ketua RT cukup dominan karena Ketua RT ,mengambil beras
dari Kantor Petinggi kemudian dibagikan kepada warganya.
Dalam kegiatan penggalangan dana swadaya baik untuk kepentingan
pembangunan dan social Ketua RT juga cukup berperan . Misalnya dengan
memberikan pengertian dan sosialisasi pada anggotanya sampai dengan
penarikan dana door to door dari rumah warga . Ini semua dilakukan
secara senang hati , ihlas dan tanpa mengharap bayaran. Namun demikian
agar pelayanan pada warga masyarakat lebih lancar maka diharapkan adanya
timbal balik dari pemerintah yang berkenaan dengan administrasi RT.
“ Memang pada akhir-akhir ini dari dana ADD pemerintah mengalokasikan
dana untuk kesejahteraan Ketua RT setiap tahun sekali , itu kami sangat
berterima kasih meskipun besarnya belum seberapa . Namun kami
mengharapkan adanya dana tambahan pembelian ATK untuk kegiatan
administrasi di tingkat RT “, harap Fahrur Rozi.
Dana ATK tersebut dipergunakan untuk membeli alat tulis yang
dipergunakan untuk melayani warga . Semisal untuk membuat Surat
Keterangan ,dan administrasi lain yang saat ini sering diminta oleh
anggota RT. Dengan adanya dana ATK tersebut selain Ketua RT mempunyai
arsip keadminitrasian secara tertib dan lengkap juga mereka tidak
terbebani oleh anggaran belanja untuk pembelian peralatan tersebut.
“ Karena ini kerja social yang tidak ada bayarannya , maka jika
masyarakat masih menghendaki saya sebagai ketua RT sayapun masih jalan.
Namun jika masyarakat menghendaki untuk pembaharuan sayapun siap mundur
dari Ketua RT “, tutup Fahrur Rozi. (Muin)
Sumber dan Foto : kabarseputarmuria.lokal.detik.com
Labels:
Sosok
06.30
Agus Setyawan ; Jualan Keliling Peluang Yang Menghasilkan
AGUS SETYAWAN adalah warga desa Pecangaan Kulon Jepara bekerja apa asa
asal halal ia jalani. Oleh karena itu ia tidak memilih-milih pekerjaan
sehingga ketika tempat kerjanya sepi order iapun beralih kerja menjadi
penjual makanan kecil keliling.
Dengan
sepeda motornya ia membuat makanan kecil berupa bakso ojek dan ia
iderkan ke desa-desa yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu
ia juga membuat minuman yang ditempatkan dalam termos besar yang ia
jual dengan menggunakan plastik kecil-kecil untuk anak-anak.
”
Awal saya berjualan di desa Babalan Mas , karena di sana sudah banyak
saingan maka saya terus berpindah-pindah. Di Babalan saya jualan hampir 3
bulan ”, aku Agus pada kabarseputarmuria.
Aku
mengaku sebelum terjun ke usaha menjual makanan keliling, ia adalah
buruh di pabrik mebel Pecangaan. Namun karena bosnya yang orang luar
negeri tidak kembali lagi , maka usaha itu tutup . Di pabrik mebel itu
ia kerja serabutan , kadang bagian penyemprotan , bagian pengepakan
sampai dengan angkut-angkut barang. Di pabrik itu ia gajian dengan
sistem mingguan , meskipun tidak besar namun setiap minggu ia mendapat
upah yang lumayan bisa untuk kebutuhan harian keluarganya.
”
Ya ketika pabrik tutup saya agak shok karena tidak ada penghasilan ,
namun setelah saya mencoba jualan makanan keliling ini pikiran sudah
tenang kembali . Meskipun kecil namun setiap hari saya dapat penghasilan
kembali ”, ujar Agus Setyawan.
Dengan
sepeda motornya itu Agus bisa ider makana kecil dari sekolah satu ke
sekolah lain . Jika istirahat tiba ia menangguk rejeki dengan sesama
pedagang lainnya dari anak-anak sekolah . Makanan yang ia jual berupa
tahu dan bulatan bakso yang ditempatkan di plastik kemudian diberi bumbu
kacang, kecap dan saos. Pembelinya rata-rata anak-anak dengan harga
jual minimal Rp 500 rupiah, namun kadang-kadang ada juga yang sekali
beli sampai Rp 2.000. Untuk minumannya setiap waktu ia ganti kadang es
teh , es sirup dan juga es degan dengan harga jula Rp 500 setiap
plastiknya.
”
Ya tergantung ramai atau tidaknya mas , jika sedang ramai ya bisa
membawa pulang Rp 300 ribu – 350ribu kotor , jika sepi ya Rp 250 ribu
dapat . Kalau untungnya rata0rata bisa 50 % dari modal ”, tambah Agus.
Sebelum
menekuni usaha jualan makanan keliling ini Agus belajar dulu sesama
pedagang lainnya . Bagaimana cara membuat makanan , menyajikan sampai
dengan cara penjualannya. Memang ketika awal memulai rasanya agak malu ,
namun setelah satu dua hari merasakan dan juga menikmati hasilnya maka
rasa malu itu hilang begitu saja . Apalagi ketika melihat kawan-kawannya
masih banyak yang ,menganggur ia merasa bersyukur karena sudah
mendapatkan pekerjaan baru yang hasilnya lumayan
”
Dengan jualan keliling ini selain mendapatkan penghasilan , saya
mendapatkan banyak pengalaman dari sesama teman penjual keliling .
Kenapa harus malu berjualan seperti ini yang penting halal hasilnya ”,
tutur Agus Setyawan.
Memang
benar apa yang dikatakan oleh Agus , saat ini kita tidak usah
pilih-pilih pekerjaan yang penting halal dan ada hasilnya kita kerjakan.
Resep ini juga bisa dipraktekkan pembaca yang saat ini masing
menganggur atau ingin pekerjaan alternatif lainnya ,jualan keliling
kenapa tidak . Dengan modal sepeda motor dan gerobag kita bisa menangguk
penghasilan dari usaha keliling ini . ( Muin )
Labels:
Sosok

